Surga dunia pantai Torowamba yang terletak di Nusa Tenggarat Barat, tepatnya di Sape, Bima NTB kampung halamanku tercinta. Lihat pasir putih yang amat bersih, air laut biru yang begitu jernih membuat saya kagum atas keindahan Negriku Indonesia. Apa masih terbesit berpergian keluar negri jika di negara sendiri kita bisa melihat surga dunia yang amat sangat memukau?
Kamis, 10 Maret 2016
Manusia dan Cinta Kasih
Ayah dan Ibu
Bicara
orang yang saya cintai pasti langsung terpikir orang tua saya terutama ibu. Bagaimana
tidak, beliau adalah orang yang telah berjuang melahirkan dan membesarkan saya
dari saya hanya bisa merengek sampai saya dewasa dan mandiri. Kasih ibu tiada
batasnya selama beliau masih mampu beliau akan menuntun anaknya untuk mencapai
kesuksesan. Pengorbana seorang ibu kepada anaknya amat lah besar, contoh ketika
saya sedang sakit dengan rasa cemas ibu mengurus saya hingga sembuh sampai
terkadang beliau sendiri lupa untuk istirahat. Ibu saya adalah manusia hebat.
Namun
apakah ayah tidak memiliki peranan? Jangan salah, ibarat keluarga adalah
pesawat ayah adalah pilotnya dan ibu adalah co-pilotnya. Dua duanya harus
saling bahu membahu mengajarkan anak anaknya hal hal positif agar keluarga
selalu harmonis. Ayah saya juga berperan dalam membesarkan anak dengan
memberikan pelajaran hidup yang positif dengan caranya sendiri. Ayah saya bekerja
pergi pagi pulang malam untuk menafkahi keluarga tercinta dengan harapan anak
anaknya bisa berkecukupan, agar memudahkan meraih kesuksesan dijalan masing-masing.
Dengan
diberikannya fasilitas yang cukup dari orang tua, saya harus bersungguh-
sungguh dalam belajar di masa kuliah ini, agar lulus nanti saya mendapat
pekerjaan yang berkecukupan atau malah lebih dari cukup. Cita-cita saya adalah
membahagiakan orang tua dengan mencapai kesuksesan dalam dunia kerja dan dengan
hasilnya saya ingin menaikkan haji ibu ayah saya dengan uang hasil jerih payah saya
Amin.
Senin, 18 Januari 2016
PRASANGKA DISKRIMINASI DAN ETNOSENTRISME
1. PERBEDAAN
PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
Sikap
yang negatif terhadap sesuatu, disebut prasangka. Walaupun dapat kita garis
bawahi bahwa prasangka dapat juga dalam pengertian positif. Tulisan ini lebih
banyak membicarakan prasangka dalam pengertian negatif. Tidak sedikit
orang-orang yang mudang berprasangka, namun banyak juga orang-orang yang lebih
sukar untuk berprasangka. Mengapa terjadi perbedaan cukup mencolok? Tampaknya
kepribadian dan intelekgensia, juga faktor lingkungan cukup berkaitan dengan
munculnya prasangka.
A. Sebab-sebab
timbulnya prasangka dan diskriminasi
(a) Berlatar belakang sejarah
Orang-orang
kulit putih di Amerika berprasangka negatif terhadap orang-orang negro,
berlatar belakang pada sejarang masa lampau, bahwa orang-orang kulit putih
sebagai tuan dan orang-orang negro berstatus sebagai budak. Walaupun reputasi
dan prestasi orang-orang negro dewasa ini cukup dapat dibanggakan, terutama
dalam bidang olahraga, akan tetapi prasangka terhadap orang-orang Negro sebagai
biang keladi kerusuhan dan keonaran belum sirna sampai dengan generasi-generasi
sekarang ini.
(b) Dilatarbelakangi oleh perkembangan sosio-kultural dan
situasional
Suatu
prasangka muncul dan berkembang dari suatu individu terhadap individu lain,
atau terhadap kelompok sosial tertentu manakala terjadi penurunan status atau
terjadi PHK oleh pimpinan perusahaan terhadap karyawannya.
(c) Bersumber dari faktor kepribadian
Keadaan
frustasi dari beberapa orang atau kelompok sosial tertentu merupakan kondisi
yang cukup untuk menimbulkan tingkah laku agresif. Para ahli beranggapan bahwa
prasangka lebih dominnan disebabkan tipe-tipe kepribadian orang-orang tertentu.
(d) Berlatar belakang dari perbedaan keyakinan, kepercayaan,
dan agama.
Bisa
ditambah lagi dengan perbedaan pandangan politik, ekonomi, dan ideologi.
Prasangka yang berakar dari hal-hal tersebut diatas dapat dikatakan sebagai
suatu prasangka yang bersifat universal.
B. Daya
upaya untuk mengurangi/menghilangkan prasangka dan
diskriminasi
a. Perbaikan kondisi sosial ekonomi.
Pemerataan
pembangunan dan usaha peningkatan pendapatan bagi warga negara Indonesia masih
tergolong dibawah garis kemiskinan akan mengurangi adanya
kesenjangan-kesenjagan sosial antara si kaya dan si miskin. Oleh karena itu
upaya pendekatan, rasa kebersamaan dan kerja sama yang saling menguntungkan
antara kelompok ekonomi kuat dengan kelompok masyarakat ekonomi lemah adalah
usaha yang sungguh-sungguh bijaksana.
b. Perluasan kesempatan belajar
Adanya
usaha-usaha pemerintah dalam perluasan kesempatan belajar bagi seluruh warga
negara Indonesia, paling tidak dapat mengurangi prasangka bahwa progam
pendidikan, terutama pendidikan tinggi hanya dapat dinikmati oleh kalangan
masyarakat menengah dan kalangan atas. Mengapa? Untuk mencapai jenjang
pendidikan tertentu di perguruan tinggi memang mahal, disamping itu harus
memiliki kemampuan otak dan modal.
c. Sikap terbuka dan sikap lapang
Harus
selalu kita sadari bahwa berbagai tantangan yang datang dari luar ataupun yang
datang dari dalam negeri, semuanya akan dapat merongrong keutuhan negara dan
bangsa. Kebinekaan masyarakat berikut sejumlah nilai yang melekat, merupakan
basis empuk bagi timbulnya prasangka, diskriminasi, dan keresahan. Upaya
menjalin komunikasi dua arah, karena masing-masing bernat membuka diri untuk
berdialog antar golongan, antar kelompok sosial yang diduga berprasangka dengan
tujuan membina kesatuan dan persatuan bangsa, adalah suatu cara yang sungguh
bijaksana.
2. ETNOSENTRISME
Setiap
suku bangsa atau ras tertentu akan memiliki ciri khas kebudayaan, yang
sekaligus menjadi kebanggan mereka. Suku bangsa, ras tersebut dalam kehidupan
sehari-hari bertingkah laku sejalan dengan norma-norma, nilai-nilai yang
terkandung dan tersirat dalam kebudayaan tersebut. Etnosentrisme nampaknya
merupakan gejala sosial yang universal, dan sikap yang demikian biasanya
dilakukan secara tidak sadar. Dengan demikian etnosentrisme merupakan
kecenderungan tak sadar untuk menginterprestasikan atau menilai kelompok lain
dengan tolak ukur kebudayaannya sendiri. Sikap etnosentrisme dalam tingkah laku
berkomunikasi nampak canggung, tidak luwes. Akibatnya etnosentrisme penampilan
yang etnosentrik, dapat menjadi penyebab utama kesalahpahaman dalam
berkomunikasi. Etnosentrisme dapat dianggap sebagai sikap dasar ideologi
Chauvinisme pernah dianut oleh orang-orang Jerman pada zaman Nazi Hitler.
Mereka merasa dirinya superior, lebih unggul dari bangsa-bangsa lain dan
memandang bangsa-bangsa lain sebagai inferior, lebih rendah, nista, dsb.
Minggu, 10 Januari 2016
AGAMA DAN MASYARAKAT
AGAMA DAN MASYARAKAT
Membicarakan peranan agama dalam kehidupan sosial menyangkut dua hal yang sudah
tentu hubungannya erat, memiliki aspek-aspek yang terpelihara. Yaitu pengaruh
dari cita-cita agama dan etika agama dalam kehidupan individu dari kelas sosial
dan grup sosial, perseorangan dan kolektivitas, dan mencakup kebiasaan dan cara
semua unsur asing agama diwarnainya.
Peraturan agama dalam masyarakat penuh dengan hidup, menekankan pada hal-hal
yang normatif atau menunjuk kepada hal-hal yang sebaiknya dan seharusnya
dilakukan.
Karena latar belakang sosial yang berbeda dari masyarakat agama, maka
masyarakat akan memiliki sikap dan nilai yang berbeda pula.
1. FUNGSI AGAMA
Untuk mendiskusikan fungsi agama
dalam masyarakat ada tiga aspek penting yang selalu dipelajari, yaitu
kebudayaan, sistem sosial, dan kepribadian.
Sebagai kerangka acuan
penelitian empiris, teori fungsional memandang masyarakat sebagai suatu lembaga
sosial yang seimbang.
Tori fungsional dalam melihat
kebudayaan pengertiannya adalah, bahwa kebudayaan itu berwujud suatu kompleks
dari ide-ide, gagasan, niali-nilai, norma-norma, peraturan dan sistem sosial
yang terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi,
berhubungan, serta bergaul satu dengan lain, setiap saat mengikuti pola-pola
tertentu berdasarkan adat tata kelakuan, bersifat kongkret terjadi di
sekeliling.
Pertanyaan selanjutnya adalah
bagaimana masalah fungsional dalam konteks teori fungsional kepribadian dan
sejauh mana agama mempertahankan keseimbangan pribadi melakukan fungsinya.
Kepribadian dalam hal ini merupakan suatu dorongan, kebutuhan yang kompleks,
kecenderungan bertindak, dan memberikan tanggapan serta nilai dan sebagainya
yang sistematis.
Teori fungsionalisme melihat
agama sebagai penyebab sosial yang dominan dalam terbentuknya lapisan sosial,
perasaan agama, dan termasuk konflik sosial. Agama dipandang sebagai lembaga
sosial yang menjawab kebutuhan mendasar yang dapat dipenuhi kebutuhan
nilai-nilai duniawi.
Aksioma teori fungsional agama
adalah segala sesuatu yang tidak berfungsi akan lenyap dengan sendirinya,
karena agama sejak dulu sampai saat ini masih ada, mempunyai fungsi, dan bahkan
memerankan sejumlah fungsi.
Jadi, seorang fungsionalis
memandang agama sebagai petunjuk bagi manusia untuk mengatasi diri dari
ketidakpastian, ketidakberdayaan, dan kelangkaan; dan agama dipandang sebagai
mekanisme penyesuaian yang paling dasar terhadap unsur-unsur tersebut.
Fungsi agama dalam pengukuhan
nilai-nilai, bersumber pada kerangka acuan yang bersifat sakral, maka normanya
pun dikukuhkan dengan sanksi-sanksi sakral.
Fungsi agama di bidang sosial
adalah fungsi penentu, dimana agama menciptakan suatu ikatan bersama, baik di
antara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban
sosial yang membantu mempersatukan mereka.
Fungsi agama sebagai sosialisasi
individu ialah individu, pada saat dia tumbuh menjadi dewasa, memerlukan suatu
sistem nilai sebagai semacam tuntunan umum untuk (mengarahkan) aktivitasnya
dalam masyarakat, dan berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan
kepribadiannya.
Masalah fungsionalisme agama
dapat dianalisis lebih mudah pada komitmen agama, dimensi komitmen agama,
menurut Roland Robertson (1984), diklasifikasikan berupa keyakinan, praktek,
pengalaman, pengetahuan, dan konsekuensi.
a. Dimensi
keyakinan mengandung perkiraan atau harapan bahwa orang yang religius akan
menganut pandangan teologis tertentu, bahwa ia akan mengikuti kebenaran
ajaran-ajaran agama.
b. Praktek agama mencakup
perbuatan-perbuatan memuja dan berbakti, yaitu perbuatan untuk melaksanakan
komitmen agama secara nyata.
c. Dimensi
pengalaman memperhitungkan fakta, bahwa semua agama mempunyai perkiraan
tertentu, yaitu orang yang benar-benar religius pada suatu waktu akan mencapai
pengetahuan yang langsung dan subjektif tentang realitas tertinggi, mampu
berhubungan, meskipun singkat, dengan suatu perantara yang supernatural.
d. Dimensi pengetahuan
dikaitkan dengan perkiraan, bahwa orang-orang yang bersikap religius akan
memiliki informasi tentang ajaran-ajaran pokok keyakinan dan upacara keagamaan,
kitab suci, dan tradisi-tradisi keagamaan mereka.
e. Dimensi
konsekuensi dari komitmen religius berbeda dengan tingkah laku perseorangan dan
pembentukan citra pribadinya.
2. PELEMBAGAAN AGAMA
Agama begitu universal, permanen (langgeng), dan mengatur dalam kehidupan,
sehingga bila tidak memahami agama, akan sukar memahami masyarakat.
Kaitan agama dengan masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe,
meskipun tidak menggambarkan sebenarnya secara utuh (Elizabeth K. Nottingham,
1954).
a. Masyarakat yang Terbelakang dan Nilai-Nilai yang Sakral
Masyarakat tipe ini kecil,
terisolasi, dan terbelakang. Anggota masyarakat menganut agama yang sama. Oleh
karenanya keanggotaan mereka dalam masyarakat dan dalam kelompok keagamaan
adalah sama.
b. Masyarakat-Masyarakat Praindustri yang Sedang Berkembang
Keadaan masyarakatnya tidak
terisolasi, ada perkembangan teknologi yang lebih tinggi dari pada tipe
pertama. Agama memberikan arti dan ikatan kepada sistem nilai dalam tiap
masyarakat ini, tetapi pada saat yang sama lingkungan yang sakral dan yang sekular
itu sedikit banyaknya masih dapat dibedakan.
Pendekatan rasional terhadap
agama dengan penjelasan ilmiah biasanya akan mengacu dan berpedoman pada
tingkah laku yang sifatnya ekonomis dan teknologis, dan tentu kurang baik.
Bila sifat rasional penuh dalam
membahas agama yang ada pada manusia, maka berarti bersifat nonagama. Karena
itu pendekatan dalam memandang agama hanya sebagai suatu gejala (fenomena) atau
kejadian. Ilmuwan yang menganut pandangan ini, juga akhirnya kecewa mengetahui
adanya manusia dengan sifat nonrasional mutlak atau terus-menerus nonrasional.
Bermula dari para ahli agama
yang mempunyai pengalaman agama dan adanya fungsi deferesiasi internal dan
stratifikasi yang ditimbulkan oleh perkembangan agama, maka tampillah
organisasi keagamaan yang terlembaga dan fungsinya adalah mengolah masalah
keagamaan.
c. Masyarakat-Masyarakat Industri Sekular
Masyarakat industri bercirikan
dinamika dan semakin berpengaruh terhadap semua aspek kehidupan, sebagian besar
penyesuaian-penyesuaian terhadap alam fisik, tetapi yang penting adalah
penyesuaian-penyesuaian dalam hubungan-hubungan kemanusiaan sendiri.
Pada umumnya kecenderungan
sekularisasi mempersempit ruang gerak kepercayaan-kepercayaan dan
pengalaman-pengalaman keagamaan yang terbatas pada aspek yang lebih kecil dan
bersifat khusus dalam kehidupan masyarakat dan anggota-anggotanya.
Pernyataan diatas menimbulkan
pertanyaan, apakah masyarakat sekular akan mampu secara efektif mempertahankan
ketertiban umum tanpa kekerasaninstitusional apabilah pengaruh agama telah
semakin berkurang.
Senin, 16 November 2015
ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN
ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN
Ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemiskinan merupakan
bagian-bagian yang tidak dapat dibebaskan dan dipisahkan dari suatu sistem yang
berinteraksi,interelasi, interdependensi, dan ramifikasi (percabangannya).
Pengertian ilmu itu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh
dengan pangkal tumpuan (objek) tertentu dengan sistematis, metodis,
rasional/logis, empiris, umum, dan akumulatif.
Sedangkan pengertian pengetahuan menurut pandangan
Aristoteles merupakan hal yang dapat diinderai dan dapat merangsang budi.
Sehingga ilmu dan pengetahuan dapat diartikan sebagai pengalaman indera dan
batin. Kemiskinan merupakan tema sentral dari perjuangan bangsa, sebagai
perjuangan yang akan memperoleh kemerdekaan bangsa dan motivasi fundamental
dari cita-cita menciptakan masyarakat adil dan makmur.
1) Ilmu Pengetahuan
Pengertian pengetahuan sebagai istilah filsafat tidaklah sederhana
karena bermacam-macam pandangan dan teori (epistemologi), diantaranya pandangan
Aristoteles, bahwa pengetahuan merupakan pengetahuan yang dapat diinderai dan
dapat merangsang budi. Menurut Decartes ilmu pengetahuan merupakan serba budi;
oleh Bacon dan David Home diartikan sebagai pengalaman indera dan batin;
menurut Immanuel Kant pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan
pengalaman; dan teori Phyroo mengatakan, bahwa tidak ada kepastian dalam
pengetahuan.
Banyaknya teori dan pendapat tentang pengetahuan dan kebenaran
mengakibatkan suatu definisi ilmu pengetahuan akan mengalami kesulitan. Sebab,
membuat suatu definisi dari definisi ilmu pengetahuan yang dikalangan ilmuwan
sendiri sudah ada keseragaman pendapat, hanya akan terperangkap dalam
tautologies (pengulangan tanpa membuat kejelasan) dan pleonasme atau mubazir
saja.
Untuk
mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan objektif diperlukan sikap yang
bersifat ilmiah. Sikap yang bersifat ilmiah itu meliputi empat hal :
a. Tidak ada perasaan yang bersifat pamrih sehingga
mencapai pengetahuan ilmiah yang objektif.
b. Selektif, artinya mengadakan pemilihan terhadap
problema yang dihadapi supaya didukung oleh fakta atau gejala, dan mengadakan
pemilihan terhadap hipotesis yang ada.
c. Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak
dapat diubah maupun terhadap alat indera dan budi yang digunakan untuk mencapai
ilmu.
d. Merasa pasti bahwa setiap pendapat, teori, maupun
aksioma terdahulu telah mencapai kepastian, namun masih terbuka untuk
dibuktikan kembali.
2) Teknologi
Dalam
konsep yang pragmatis dengan kemungkinan berlaku secara akademis dapatlah
dikatakan, bahwa ilmu pengetahuan ( body of knowledge ), dan teknologi sebagai
suatu seni ( state of art ) yang mengandung pengertian berhubungan dengan
proses produksi; menyangkut cara bagaimana berbagai sumber, tanah, modal,
tenaga kerja dan keterampilan dikombinasikan untuk merealisasi tujuan produksi.
Teknologi memperlihatkan fenomenanya dalam masyarakat sebagai hal
impersonal dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan manusia
menjadi lingkup teknis.
Fenomena teknik pada masyarakat kini, menurut Sastrapratedja ( 1980 )
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Rasionalitas, artinya tindakan spontak oleh teknik
diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional.
b. Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang
buatan tidak alamiah.
c. Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan
rumusan dilaksanakan serba otomatis.
d. Teknis berkembang pada suatu kebudayaan.
e. Monisme, artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi
dan saling bergantung.
f. Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas
kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan.
g. Otonomi, artinya teknik berkembang menurut
prinsip-prinsip sendiri.
Luasnya
bidang teknik, digambarkan oleh Ellul sebagai berikut :
1. Teknik meliputi bidang ekonomi, artinya teknik mampu
menghasilkan barang-barang industri.
2. Teknik meliputi bidang organisasi seperti
administrasi, pemerintahan, manajemen, hukum dan militer.
3. Teknik meliputi bidang manusiawi, seperti pendidikan,
kerja, olahraga, hiburan dan obat-obatan.
Teknik-teknik manusiawi yang dirasakan pada masyarakat teknologi,
terlihat dari kondisi kehidupan manusia itu sendiri.
Dampak
teknik itu sendiri bagi manusia sudah dirasakan dan fenomenanya nampak.
Seperti, anggapan para ahli teknik bahwa manusia hanyalah mitos abstrak,
manusia mesin ( manusia mengadaptasikan diri kepada mesin ), penerapan teknik
memecah belah manusia ( tidak ada kesempatan mengembangkan kepribadiannya ),
timbul kemenangan pada alam tak sadar, simbol-simbol tradisional diganti dengan
teknik, terbentuknya manusia-massa ( gaya hidup dibentuk oleh iklan ) dan
nampak teknik sudah mendominasi kehidupan manusia secara menyeluruh.
Saat ini
sudah dikonstantasi, bahwa negara-negara teknologi maju telah memasuki tahap
superindustrialisme, melalui inovasi teknologis tiga tahap :
a) Ide kreatif
b) Penerapan praktisnya
c) Difusi atau penyebarluasan dalam masyarakat.
3) Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Nilai
Penerapan ilmu pengetahuan khusunya teknologi sering kurang
memperhatikan masalah nilai, moral atau segi-segi manusiawinya.
Masalah
nilai kaitannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi ini, menyangkut
perdebatan sengit dalam menduduk perkarkan nilai dalam kaitannya dengan ilmu
dan teknologi. Sehingga kecenderungan sekarang ada dua pemikiran yaitu : yang
menyatakan ilmu bebas nilai dan yang menyatakan ilmu tidak bebas nilai.
Ilmu
dapatlah dipandang sebagai produk, sebagai proses, dan sebagai paradigma etika
( Jujun S. Suriasumantri, 1984 ).
Apa
yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, merupakan hasil
penalaran ( rasio ) secara objektif. Ilmu sebagai produk artinya ilmu diperoleh
dari hasil metode keilmuwan yang diakui secara umum dan universal sifatnya.
Istilah
ilmu di atas, berbeda dengan istilah pengetahuan. Ilmu adalah diperoleh melalui
kegiatan metode ilmiah atau epistemologi. Jadi, epistemologi merupakan
pembahasan bagaimana mendapatka pengetahuan. Metode ilmiah adalah kegiatan
menyusun tubuh pengetahuan yang bersifat logis, penjabaran hipotesis dengan
deduksi dan verifikasi atau menguji kebenarannya secara faktual; Sehingga
kegiatannya disingkat menjadi logis-hipotesis-verifikasi atau
deduksi-hipotesis-verifikasi. Sedangkan pengetahuan adalah pikiran atau
pemahaman di luar atau tanpa kegiatan metode ilmiah, sifatnya dapat dogmatis,
banyak spekulasi dan tidak berpijak pada kenyataan empiris.
Ilmu
pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penyangga tubuh pengetahuan
yang disusunnya yaitu : ontologis, epistemologis dan aksiologis. Epistemologis
seperti diuraikan di muka, hanyalah merupakan cara bagaimana materi pengetahuan
diperoleh dan disusun menjadi tubuh pengetahuan. Ontologis dapat diartikan
hakikat apa yang dikaji oleh pengetahuan, sehingga jelas ruang lingkup wujud yang menjadi objek
penelaahannya. Komponen Aksiologis adalah asas menggunakan ilmu pengetahuan
atau fungsi dari ilmu pengetahuan.
Komponen ontologis kegiatannya
adalah menafsirkan hikayat realitas yang ada, sebagaimana adanya ( das sein ),
melalui desuksi-desuksi yang dapat diuju secara fisik.
Komponen epistemologis berkaitan dengan nilai atau moral pada saat proses
logis-hipotesis-verifikasi.
Komponen aksiologis artinya lebih lengket dengan nilai atau moral, di
mana ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan demi kemaslahatan manusia.
Pembicaraan selanjutnya adalah kaitan teknologi dan nilai. Namun
sebelumnya, perlu menelusuri kaitan ilmu dan teknologi sebelum memahami kaitan
teknologi dan nilai. Seperti kita maklumi, selain ilmu dasar ada juga ilmu
terapan. Tujuan ilmu terapan ini adalah untuk membantu manusia dalam memecahkan
masalah-masalah praktis, sekaligus memenuhi kebutuhannya.
Kaitan
ilmu dan teknologi dengan nilai atau moral, berasal dari ekses penerapan ilmu
dan teknologi sendiri. Dalam hal ini sikap ilmuwan dibagi menjadi dua golongan
:
1) Golongan yang menyatakan ilmu dan teknologi adalah
bersiat netral terhadap nilai-nilai baik secara ontologism maupun secara
aksiologis, soal penggunaannya terserah kepada si ilmuwan itu sendiri, apakah
digunakan untuk tujuan baik atau tujuan buruk.
2) Golongan yang menyatakan bahwa ilmu dan teknologi itu
bersifat netral hanya dalam batas-batas metafisik keilmuwan, sedangkan dalam
penggunaan dan penelitiannya harus berlandaskan pada asas-asas moral atau
nilai-nilai, golongan ini berasumsi bahwa ilmuwan telah mengetahui ekses-ekses
yang terjadi apabila ilmu dan teknologi disalahgunakan.
Rangkaian pengembangan ilmu dan teknologi yang dimulai dengan :
penelitian dasar, penelitian terapan, pengembangan teknologi dan penerapan
teknologi, mau tidak mau harus dilanjutkan dengan evaluasi
ethis-politis-religius.
4) Kemiskinan
Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapat untuk memenuhi
kebutuhan hidup yang pokok, dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila
pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti
pangan, pakaian, tempat berteduh, dll.
Garis
kemiskinan, yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal :
1. Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang
diperlukan
2. Posisi manusia dalam lingkungan sekitar
3. Kebutuhan objektif manusia untuk bisa hidup secara
manusiawi.
Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan di pengaruhi
oleh tingkat pendidikan, adat-istiadat, dan sistem nilai yang dimiliki. Dalam
hal ini garis kemiskinan dapat tinggi atau rendah. Terhadap posisi manusia
dalam lingkungan sosial, bukan ukuran kebutuhan pokok yang menentukan, melainkan
bagaimana posisi pendapatannya ditengah-tengah masyarakat sekitarnya. Kebutuhan
objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi ditentukan oleh komposisi
pangan apakah bernilai gizi cukup dengan nilai protein dan kalori cukup sesuai
dengan tingkat umur, jenis kelamin, sifat pekerjaan, keadaan iklim dan
lingkungan yang dialaminya.
Atas
dasar ukuran ini maka mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
a. Tidak memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah,
modal, keterampilan, dsb;
b. Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset
produksi dengan kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan atau
modal usaha;
c. Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai tamat
sekolah dasar karena harus membantu orang tua mencari tambahan penghasilan;
d. Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas (
self employed ), berusaha apa saja;
e. Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak
mempunyai keterampilan.
Kemiskinan menurut orang lapangan ( umum ) dapat dikategorikan kedalam
tiga unsure :
1. Kemiskinan yang disebabkan handicap badaniah ataupun
mental seseorang.
2. Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam.
3. Kemiskinan buatan.
Kalau
kita menganut teori fungsionalis dari statifikasi ( tokohnya Davis ), maka
kemiskinanpun memiliki sejumlah fungsi yaitu :
1) Fungsi ekonomi : Penyediaan tenaga untuk pekerjaan
tertentu, menimbulkan dana sosial, membuka lapangan kerja baru dan memanfaatkan
barang bekas ( masyarakat pemulung ).
2) Fungsi sosial : Menimbulkan altruism ( kebaikan
spontan ) dan perasaan, sumber imajinasi kesulitan hidup bagi si kaya, sebagai
ukuran kemajuan bagi kelas lain dan merangsang munculnya badan amal.
3) Fungsi kultural : Sumber inspirasi kebijaksanaan
teknokrat dan sumber inspirasi sastrawan dan memperkaya budaya saling mengayomi
antar sesama manusia.
4) Fungsi politik : berfungsi sebagai kelompok gelisah
atau masyarakat marginal untuk musuh bersaing bagi kelompok lain.
Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen
penyangga tubuh pengetahuan yang disusunnya yaitu: ontologis, aksiologis, dan
epistemologis. Ontologis dapat diartikan hakikat apa yang dikaji oleh
pengetahuan, sehingga jelas ruang lingkup wujud yang menjadi objek
penelaahannya. Aksiologis ialah asas menggunakan ilmu pengetahuan atau fungsi
dari ilmu pengetahuan. Epistemologis merupakan cara bagaimana materi
pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi tubuh pengetahuan. Ketiga komponen
tersebut erat kaitannya dengan nilai atau moral.
Minggu, 08 November 2015
MASYARAKAT PEDESAAN DAN MASYARAKAT PERKOTAAN
A. PENGERTIAN MASYARAKAT
Berikut di bawah ini adalah beberapa
pengertian masyarakat dari beberapa ahli sosiologi dunia.
1.
Menurut Selo Sumardjan masyarakat
adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
2.
Menurut Karl Marx masyarakat adalah
suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan
akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara
ekonomi.
3.
Menurut Emile Durkheim masyarakat
merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
4.
Menurut Paul B. Horton & C. Hunt
masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama
dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai
kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok /
kumpulan manusia tersebut.
B. MASYARAKAT PERKOTAAN
Masyarakat perkotaan sering disebut
juga urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada
sifat-sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan
masyarakat pedesaan.
Perhatian khusus masyarakat kota
tidak terbatas pada aspek-aspek seperti pakaian, makanan, dan perumahan, tetapi
mempunyai perhatian lebih luas lagi. Bila ada tamu misalnya, diusahakan
menghidangkan makanan misalnya, yang diutamakan adalah mempunyai kedudukan
sosial tinggi.
Perubahan-perubahan sosial tampak
dengan nyata di kota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima
pengaruh-pengaruh dari luar. Hal ini sering menimbulkan pertentangan antara
golongan tua dengan golongan muda. Ada beberapa ciri yang menonjol pada
masyarakat kota yaitu :
1.
Kehidupan keagamaan berkurang bila
dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
2.
Orang kota pada umumnya dapat
mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada
orang lain. Yang penting disini adalah manusia
perorangan atau individu.
3.
Pembagian kerja di antara
warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
4.
Kemungkinan-kemungkinan untuk
mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga
desa.
5.
Interaksi yang terjadi lebih banyak
terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan dari pada faktor pribadi.
6.
Pembagian waktu yang lebih teliti
dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu.
7.
Perubahan-perubahan sosial tampak
dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh
dari luar.
C.
PERBEDAAN DESA DAN KOTA
Ada
beberapa ciri yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk untuk membedakan antara
desa dan kota. Dengan melihat perbedaan-perbedaan yang ada mudah-mudahan akan
dapat mengurangi kesulitan dalam menentukan apakan suatu masyarakat dapat
disebut sebagai masyarakat pedesaan atau masyarakat perkotaan
Ciri-ciri
tersebut antara lain :
1.
Jumlah
dan kepadatan penduduk;
2.
Lingkungan
hidup;
3.
Mata
pencaharian;
4.
Corak
kehidupan sosial;
5.
Stratifikasi
sosial;
6.
Mobilitas
sosial;
7.
Pola
interaksi sosial;
8.
Solidaritas
sosial;dan
9.
Kedudukan
dalam hierarki sistem administrasi nasional.
Meskipun
tidak ada ukuran pasti, kota memiliki penduduk yang jumlahnya lebih banyak
dibadingkan desa. Hal ini mempunyai kaitan dengan kepadatan penduduk, yaitu
jumlah penduduk yang tinggal pada suatu luas wilayah tertentu, misalnya saja
jumlah per KM”(kilometer persegi) atau jumlah perhektar.
2. HUBUNGAN DESA DAN KOTA
Masyarakat pedesaan dan perkotaan
bukanlah dua komonitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam
keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat. Bersifat
ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada
dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan bahan pangan seperti beras sayur
mayur , daging dan ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi bagi
jenis jenis pekerjaan tertentu dikota. Misalnya saja buruh bangunan dalam
proyek proyek perumahan. Proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau
jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja pekerja musiman.
Pada saat musim tanam mereka, sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan dibidang
pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota
terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.
Perhatian khusus masyarakat kota
tidak terbatas pada aspek-aspek seperti pakaian, makanan, dan perumahan, tetapi
mempunyai perhatian lebih luas lagi. Bila ada tamu misalnya, diusahakan
menghidangkan makanan misalnya, yang diutamakan adalah mempunyai kedudukan
sosial tinggi. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota,
sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.
Hal ini sering menimbulkan pertentangan antara golongan tua dengan golongan
muda.
3. ASPEK POSITIF DAN NEGATIF
a)
Bertambahnya penduduk sehingga tidak
seimbang dengan persediaan lahan pertanian,
b)
Terdesaknya kerajinan rumah di desa
oleh produk industri modern.
c)
Penduduk desa, terutama kaum muda,
merasa tertekan oleh oleh adat istiadat yang ketat sehingga mengakibatkan suatu
cara hidup yang monoton.
d)
Didesa tidak banyak kesempatan untuk
menambah ilmu pengetahuan.
e)
Kegagalan panen yang disebabkan oleh
berbagai hal, seperti banjir, serangan hama, kemarau panjang, dsb. Sehingga
memaksa penduduk desa untuk mencari penghidupan lain dikota.
Hal – hal yang termasuk pull factor antara lain :
a.
Penduduk desa kebanyakan beranggapan
bahwa dikota banyak pekerjaan dan lebih mudah untuk mendapatkan penghasilan
b.
Dikota lebih banyak kesempatan untuk
mengembangkan usaha kerajinan rumah menjadi industri kerajinan.
c.
Pendidikan terutama pendidikan
lanjutan, lebih banyak dikota dan lebih mudah didapat.
d.
Kota dianggap mempunyai tingkat
kebudayaan yang lebih tinggi dan merupakan tempat pergaulan dengan segala macam
kultur manusianya.
e.
Kota memberi kesempatan untuk
menghindarkan diri dari kontrol sosial yang ketat atau untuk mengangkat diri
dari posisi sosial yang rendah ( Soekanti, 1969 : 124-125 ).
4.
MASYARKAT PEDESAAN
A.
PENGERTIAN DESA/PEDESAAN
Desa
adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat
pemerintahan sendiri. Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan
perasaan batik yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota
masyarakat yang amat kuat yang hakikatnya, bahwa seseorang merasa merupakan
bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dimana ia hidup dicintainya serta mempunyai
perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau
anggota-anggota masyarakat.
B.
HAKIKAT DAN SIFAT MASYARAKAT PEDESAAN
Seperti
dikemukakan oleh para ahli atau sumber bahwa masyarakat indonesia lebih dari
80% tinggal di pedasaan dengan mata pencarian yang bersifat agraris. Masyarakat
pedesaan yang agraris biasanya dipandang antara sepintas kilas dinilai oleh
orang-orang kota sebagai masyarakat
tentang damai, harmonis yaitu masyarakat yang adem ayem, sehingga oleh orang
kota dianggap sebagai tempat untuk melepaskan lelah dari segala kesibukan
keramaian dan keruwetan atau kekusutan pikir. Maka tidak jarang orang kota
melepaskan segala kelelahan dan kekusututan pikir tersebut pergilah ke luar
kota.
C.
SISTEM NILAI BUDAYA PETANI INDONESIA
Para ahli
disinyalir bahwa dikalangan petani pedesaan ada suatu cara berfikir dan mentalitas yang hidup dan
bersifat religio-magis. Mentalitas para petani seperti di atas perlu dikaji dan
diadakan penelitian dan pembahasan secara ilmiah dan mendalah agar dapat
diarahkan kepada keberhasilan pembangunan yang sekarang ini sedang giat-giatnya
kita laksanakan.
5. URBANISASI DAN URBANISME
Sehubungan
dengan perbedaan antara masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan, kiranya
perlu pula disinggung perihal urbanisasi. Urbanisasi adalah suatu proses
berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dapat pula dikatakan bawha
urbanisasi merupakan prises terjadnya masyarakat perkotaan.
Proses
urbanisasi boleh dikatakan terjadi di seluruh dunia, baik pada negara-negara
yang sudah maju industrinya maupun yang secara relatif memiliki industri.
6. PERBEDAAN PEDESAAN DAN PERKOTAAN
Masyarakat pedesaan kehidupannya berbeda dengan
masyarakat perkotaan. Perbedaan-perbedaan ini berasa dari adanya perbedaan yang
mendasar dari keadaan lingkungan, yang mengakibatkan adanya dampak terhadap
personalitas dan segi-segi kehidupan. Berbicara tentang masyarakat pedesaan dan
perkotaan, sungguhnya akan berbicara tentang sistem hubungan antara unsur-unsur
yang nembentuknya.
Masyarakat pedesaan maupun masyarakat perkotaan
masing-masing dapat di perlukan sebagai sistem jaringan hubungan yang kekal dan
penting, serta dapat pula dibedakan masyarakat yang bersangkutan dengan
masyarakat yang lain. Oleh karena itu, mempelajari suatu masyarakat berarti
dapat berbicara soal struktur sosial. Adapun poin-poin perbedaanya sebagai
berikut:
1.
Lingkungan Umum
dan Orientasi Terhadap Alam
2.
Pekerjaan atau
Mata Pencaharian
3.
Ukuran Komunitas
4.
Kepadatan
Penduduk
5.
Homogenitas dan
Heterogenitas
6.
Diferensiasi
Sosial
7.
Pelapisan Sosial
8.
Mobilitas Sosial
9.
Interaksi Sosial
10. Pengawasan Sosial
11. Pola Kepemimpinan
12. Standar Kehidupan
13. Ketidaksetiakawanan Sosial
14. Nilai dan Sistem Nilai
Langganan:
Postingan (Atom)




